Tempat Referensi Tugas Ilmiah, dilengkapi software pendukung kinerja anda. Nikmati juga Karya sastra
penyejuk jiwa dan kumpulan game yg akan menghibur
anda. All in One
Thursday, July 25, 2013

Makalah Reproduksi Vegetatif dan Generatif Pada Phylum Protozoa

Reproduksi Vegetatif dan Generatif Pada Phylum Protozoa

Try Nur Hidayati. Pendidikan Biologi UHAMKA 2011.

Protozoa sebagian besar melakukan reproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan cara pembelahan biner. Pembelahan diawali dengan pembelahan inti yang diikuti dengan pembelahan sitoplasma, kemudian menghasilkan 2 sel baru. Pembelahan biner terjadi pada Amoeba, Paramaecium, Euglena.


Protozoa bersilia membelah dengan arah transversal setelah terlebih dahulu melakukan konjugasi. Protozoa berflagel membelah dengan arah longitudinal. Beberapa Protozoa lain akan membelah berulang kali (multipel fission) yang menghasilkan banyak anak sel.




Gambar 1 Beberapa macam proses reproduksi vegetatif  pada protozoa



Sebagian Protozoa melakukan reproduksi secara seksual (generatif) dengan penyatuan sel generatif (gamet) atau dengan penyatuan inti sel vegetatif. Reproduksi seksual dengan peleburan inti sel pada organisme yang belum jelas alat kelaminnya disebut konjugasi.

1. Rhizopoda (Sarcodina)

Rhizopoda berkembang biak secara vegetatif (aseksual) dengan pembelahan biner, contohnya pada Amoeba sp. Amoeba dapat berkembang biak dengan pembelahan biner tanpa melalui tahap-tahap mitosis. Pembelahan dimulai dari membelahnya inti sel menjadi dua, lalu diikuti oleh pembelahan sitoplasma.

Pembelahan inti tersebut menimbulkan lekukan yang sangat dalam yang lama-lama akan putus sehingga terbentuklah dua sel anak Amoeba yang baru yang masing-masing mempunyai inti baru dan sitoplasma yang baru pula. Kedua sel anak ini akan mengalami pembelahan biner sehingga menjadi empat sel, delapan sel, enam belas sel, dan seterusnya.

Pada Amoeba apabila keadaan lingkungan kurang baik misalnya kekeringan, maka Amoeba akan membentuk kista. Didalam kista Amoeba dapat membelah menjadi amoeba-amoeba baru yang lebih kecil. Bila keadaan menguntungkan maka amoeba-amoeba tadi dapat keluar dan selanjutnya amoeba ini akan tumbuh. Setelah mencapai pada ukuran tertentu maka amoeba tadi akan membelah diri seperti semula.


Gambar 2 Pembelahan biner pada Amoeba

2. Ciliata (Ciliophora/Infusoria)
Ciliata memiliki dua inti yaitu, makronukleus dan mikronukleus. Makronukleus berukuran lebih besar dibandingkan mikronukleus. Makronukleus memiliki fungsi vegetatif, yaitu untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Mikronukleus memiliki fungsi reproduktif, yaitu pada konjugasi. Contohnya pada Paramaecium sp.

Ciliata melakukan reproduksi secara vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual). Reproduksi vegetatif, yaitu dengan pembelahan biner membujur (transversal) sepanjang selnya. Pembelahan diawali dengan pembelahan mikronukleus dan diikuti dengan pembelahan makronucleus.


Gambar 3 Pembelahan biner pada Paramecium


Reproduksi generatif dilakukan dengan konjugasi yaitu dengan cara penggabungan atau penyatuan fisik sementara antara dua individu kemudian terjadi pertukaran nukleus. Dengan demikian, akan terjadi perpaduan sifat yang dibawa oleh kedua individu tersebut dan menghasilkan satu individu baru. Reproduksi generatif Paramaecium berlangsung sebagai berikut :


  1. Dua Paramaecium saling mendekat dan menempel pada bagian mulut sel untuk kawin, lalu terbentuk tabung konjugasi.
  2. Mikronukleus masing-masing individu bermeosis 2 kali, lalu menghasilkan 4 mikronukleus haploid pada asing-masing individu.
  3. Tiga mikronukleus melebur/hilang dan satu mikronukleus akan membelah secara mitosis menjadi dua mikronukleus.
  4. Pasangan tersebut kemudian mempertukarkan satu mikronukleusnya.
  5. Mikronukleus yang sudah dipertukarkan akan melebur dengan makronukleus, terjadilah singami. Terbentuklah zigot nucleus yang diploid. Kemudian pasangan Paramaecium memisah.
  6. Zigot nucleus masing-masing membelah secara mitosis sebanyak 3 kali berturut turut sehingga terbentuk 8 mikronukleus yang identic pada asing-masing paramaecium.
  7. Selanjutnya masing-masing makronukleus yang asli hancur. (kenapa hancur?karena yang berperan dalam proses konjugasi hanya mikronukleus, sedangkan makronukleus untuk proses metabolisme).
  8. Empat mikronukleus akan hilang sehingga tersisa akan tersisa empat mikronukleus.
  9. Tiga mikronukleus akan bergabung menjadi satu mikronukleus dan satu mikronukleus lainnya akan tetap menjadi mikronukleus.

Pertanyaannya :

Mengapa dalam proses konjugasi tidak terjadi perbanyakan paramaecium....?.

Jawabannya :

karena proses ini hanya untuk pertukaran materi genetik. Sedangkan untuk melakukan perbanyakan diri paramaecium melakukan pembelahan biner.


Gambar 4 Reproduksi secara konjugasi pada Paramecium

3. Flagellata (Mastigophora)
Flagellata berkembang biak secara vegetatif (aseksual) dengan pembelahan biner membujur (longitudinal), misalnya pada Leismania donovani, Trypanosoma sp, Euglena sp, Volvox globator. Sedangkan untuk reproduksi generatif (seksual) terjadi pada fitoflagellata dengan cara konjugasi, misalnya pada Volvox.



Gambar 5 Pembelahan biner pada Euglena sp (kiri)  dan T.evansi (kanan)

4. Sporozoa (Apicomplexa)
Sporozoa melakukan reproduksi secara vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual). Sporozoa memiliki pergiliran antara fase seksual dan aseksualnya. Reproduksi vegetatif dilakukan dengan pembentukan spora. Reproduksi generatif dilakukan dengan pembentukan gamet dan dilanjutkan dengan penyatuan gamet jantan dan betina. Misalnya pada Plasmodium. Pada Plasmodium peleburan gamet jantan dan gamet betina terjadi di dalam tubuh nyamuk Anopheles betina.

1. Fase vegetatif / aseksual/ skizogoni


Berlangsung di dalam tubuh manusia.

a. Siklus Eksoeritrositer (EE).
Nyamuk Anopheles betina mengisap darah manusia, sporozoit (bibit penyakit) dalam air liur nyamuk masuk ke dalam tubuh manusia. Sporozoit menyerang butir-butir sel darah merah kemudian masuk ke hati menjadi skizont kriptozoik. Skizont kriptozoik berkembang biak secara vegetatif dengan membelah diri membentuk merozoit cryptozoik.
b. Siklus Eritrositer (E).
Merozoit cryptozoik masuk ke dalam sel darah merah dan berkembang menjadi bentuk tropozoit. Selanjutnya inti tropozoit tersebut mengalami pembelahan secara berganda membentuk merozoit . Kemudian sel darah merah pecah. Sebagian merozoit ada yang berkembang membentuk gametofit, sedang sebagian yang lain ada yang menyerang sel darah merah yang lain. Proses merozoit menyerang sel darah merah disebut sporulasi .
2. Fase generatif / seksual / sporogoni
Berlangsung di dalam tubuh nyamuk Anopheles betina
Saat nyamuk menghisap darah manusia, gametosit ikut terbawa masuk ke dalam tubuh nyamuk. Gametofit tersebut akan berkembang menjadi mikrogamet (gamet jantan) dan makrogamet (gamet betina). Jika terjadi pembuahan (gamet jantan membuahi gamet betina) maka akan terbentuk zigot yang menempel di dinding lambung nyamuk. Zigot akan berkembang menjadi Ookinet. Ookinet menembus dinding lambung dan menempel di sebelah luar. Ookinet selanjutnya tumbuh menjadi Ookista. Ookista membelah menjadi banyak.

Tiap Ookista akan membungkus diri dengan sedikit sitoplasma membentuk Oosit . Oosit akan berkembang membentuk sporozoit baru yang tersebar ke dalam jaringan tubuh nyamuk Anopheles termasuk ke dalam kelenjar liur.


Gambar 6 Reproduksi vegetatif dan generatif pada Plasmodium


SELAMAT BELAJAR !!!


Judul: Makalah Reproduksi Vegetatif dan Generatif Pada Phylum Protozoa
Rating: 10 out of 10 based on 24 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Aghry Wiranata Anugrah

Postingan ini dilindungi Hak Cipta, Sertakan sumber jika ingin mengambil rujukan pada tulisan ini. Terima Kasih Atas Kunjungan Anda...

0 comments:

Post a Comment

Berilah Komentar dengan kritik dan saran anda untuk perbaikan blog ini. Berikan pula kesan anda dalam blog ini agar kami semangat. Jika anda suka, bagikan ke teman-teman anda agar mereka dapat merasakan.
NO SPAM AND SARA

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...